TUGAS 2

Eka febiana 1811010234,kelas i, semester 5, Pendidikan Agama Islam, Uin Raden Intan Lampung

Dosen Pengajar :Yum Jamilah, M. Pd.I

 

A.    Tujuan Evaluasi Pembelajaran

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu, input, transformasi dan output. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. Transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu ; guru, media dan bahan beljar, metode pengajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.

Jika kita ingin melakukan kegiatan evaluasi, terlepas dari jenis evaluasi apa yang digunakan, maka guru harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu tentang tujuan dan fungsi evaluasi. Bila tidak, maka guru akan mengalami kesulitan merencanakan dan melaksanakan evaluasi. Hampir setiap orang yang membahas evaluasi pula tentang tujuan dan fungsi evaluasi. Tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui keefektifan dan efisiensi sistem pembelajaran, baik yang menyangkut tentang tujuan materi, metode, media sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri. Sedangkan tujuan khusus evaluasi pembelajaran disesuaikan dengan  jenis evaluasi pembelajaran itu sendiri, seperti evaluasi perencanaan dan pengembangan, evaluasi monitoring, evaluasi dampak, evaluasi efisinensi-ekonomi, dan evaluasi program komprehensif. [1]

Dalam konteks yang lebih lulas lagi, Gilbert Sax (1980 : 28) mengemukakan tujuan evaluasi dan pengukuran adalah untuk  “selection, placement, diagnosis and remediation, feedback : norm-referenced and criterion-referenced interpretation, motivation and guidance of learning, program and curriculum interpretation, formative and summative evaluation, and theory development”.

Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Tindak lanjut termaksud merupakan fungsi evaluasi dan dapat berupa[2]:

1.      Penempatan pada tempat yang tepat

2.      Pemberian umpan balik

3.      Diagnosis kesulitan belajar siswa

4.      Penentuan kelulusan

B.     Fungsi Evaluasi Pembelajaran

Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu:

1.      Menguukur kemajuan

2.      Penunjang penyusunan rencana

3.      Memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali[3]

Jika dilihat dari fungsi diatas setidaknya ada dua macam kemungkinan hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi , yaitu:

A.    Hasil evaluasi yang diperoleh dari kegiatan evaluasi itu ternyata mengembirakan, sehingga dapat memberikan rasa lega bagi evaluator, sebab tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai sesuai dengan yang direncanakan.

B.     Hasil evaluasi itu ternyata tidak mengembirakan atau bahkan mengkhawatirkan, dengan alasan bahwa berdsar hasil evaluasi ternyata dijumpai adanya penyimpangan, hambatan, atau kendala, sehingga mengharuskan evaluator untuk bersikap waspada. Ia perlu memikirkan dan melakukan pengkajian ulang terhadap rencana yang telah disusun, atau mengubah dan memperbaiki cara pelaksanaannya. Berdasar  data hasil evaluasi itu selanjutnya dicari metode-metode lain yang dipandang lebih tepat dan lebih sesuai dengan keadaan dan keperluan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pungsi evaluasi itu memiliki fungsi: menunjang penyusunan rencana.

Sedangkan secara khusus, fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat dilihat dari 3 segi:

1)      Segi psikologis, kegiatan evaluasi dalam dunia pendidikan disekolah dapat disoroti dari 2 sisi, yaitu sisi peserta didik dan dari sisi pendidik.

Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan secara psikologis akan memberikan pedoman atau pegangan batin kepada mereka untuk mengenal kapasitas dan status dirinya masing-masing ditengah-tengah kelompok atau kelasnya.

Bagi pendidik, evaluasi pendidikan akan memberikan kapasitas atau ketepatan hati kepada diri pendidik tersebut, sudah sejauh manakah kiranya usaha yang telah dilakukannya selama ini yang telah membawa hasil, sehingga secara psikologis ia memiliki pedoman guna menentukan langkah-langkah apa saja perlu dilakukan selanjutnya.

2)      Segi didaktik.

Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan secara didaktik(khususnya evaluasi hasil belajar) akan dapat memberikan dorongan (motivasi) kepada mereka untuk dapat memperbaiki, meningkatkan, dan mempertahankan prestasinya.

Bagi pendidik, evaluasi pendidikan secara didaktik itu setidak-tidaknya memiliki 5 macam fungsi, yaitu:

a.       Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh peserta didiknya.

b.      Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya.

c.       Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik.

d.      Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya.

e.       Memberikan petunjuk tentang sejauh manakah program pengajaran yang telah ditetukan dapat dicapai.

3)      Segi administratif, evaluasi pendidikan setidak-tidaknya memiliki 3 macam fungsi:

a.       Memberikan laporan

b.      Memberikan bahan-bahan keterangan (data)

c.       Memberikan gambaran[4]

Jika ditinjau dari berbagai segi dalam sistem pendidikan, maka fungsi evaluasi ada beberapa hal;

1.      Evaluasi berfungsi selektif

Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain;

a)      Untuk memilihg siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.

b)      Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya

c)      Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.

d)     Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya

 

2.      Evaluasi berfungsi diagnostic.

Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Di samping itu diketahui pula sebab-musabab kelemahan itu.

3.      Evaluasi berfungsi sebagai penempatan

System baru yang kini banyak dipipulerkan di negeri barat, adalah system belajar sendiri. Belajar sendiri dapat dilakukan dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya system ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemampuan individual. Akan tetapi disebabkan keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan, yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali di laksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pastidi kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu evaluasi. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil evaluasi yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.[5]

 

4.      Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan.

Fungsi keempat dari evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa factor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan system kurikulum.[6]

Adapun fungsi Evaluasi dalam proses pengembangan system pendidikan dimaksudkan untuk;

1)      Perbaikan system

2)      Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat

3)      Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan[7]

Kalau dilihat dari prinsip evaluasi yang terdapat pada Al-qur’an dan praktek yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.  Maka evaluasi berfungsi sebagai berikut[8]:

1)      Untuk menguji daya kemampuan manusi beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dihadapi (QS. Al-Baqarah 155)

2)      Untuk mengetahui sejauh mana atau sampai dimana hasil pendidikan wahyu yg telah diaplikasikan Rasulullah SAW kepada umatnya (QS. An-Naml 40)

C.     Prinsip dan Ruang Lingkup Evaluasi Pembelajaran

a.       Prinsip evaluasi Pembelajaran [9]

Dalam evaluasi, terdapat prinsip umum yang penting dalam suatu kegiatan evaluasi, yakni dapat disebut triangulasi atau suatu hubungan yang saling terkait antara 3 (tiga) komponen, yakni:

1.    Tujuan Pembelajaran

2.    KBM (Kegiatan Belajar Mengajar)

3.    Evaluasi

 

Ketiganya, memiliki keterkaitan dan hubungan yang penting dalam prinsip evaluasi.

 

1.       Hubungan keterkaitan antara tujuan pembelajaran dengan KBM adalah suatu kegiatan belajar dan mengajar merupakan kegiatan yang disusun serta dirancang oleh guru/pendidik dalam bentuk rencana pembelajaran, dalam penyusunan tersebut tentu harus mengacu pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Sehingga sebuah KBM harus mengacu pada tujuan, dan tujuan tersebut mengarah pada Kegiatan Belajar Mengajar.

2.        Hubungan keterkaitan antara tujuan dengan evaluasi adalah ketika melihat arti dari evaluasi yakni suatu kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sampai mana suatu tujuan tercapai. Sehingga pengukuran menggunakan alat evaluasi

3.        Hubungan keterkaitan antara KBM dengan evaluasi adalah tidak hanya mengacu pada tujuan saja, namun evaluasi juga harus disesuaikan dengan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan.

 

Menurut Khusnuridlo (2010) untuk hasil evaluasi yang lebih baik, evaluasi harus berhubungan dengan beberapa prinsip umum antara lain.

1.    Kontinuitas

Evaluasi pembelajaran harus dilakukan secara kontinu atau berlanjut, sehingga saling berhubungan antara hasil evaluasi sebelumnya dengan hasil evaluasi selanjutnya. Dengan demikian guru dapat melihat perkembangan peserta didik dengan melihat prosesnya bukan hasil belajarnya saja.

2.    Komprehensif

Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mengenai aspek aspek yang ada didalamnya seperti afektif, kognitif dan psikomototrik peserta didik.

3.    Adil dan Objektif

Dalam melaksanakan evaluasi harus adil dan objektif dimana dalam mengevaluasi harus tidak memandang perbedaan agama, suku, ras dan budaya serta bersifat objektif sesuai dengan kemampuan masing masing peserta didik sesuai dengan fakta.

4.    Kooperatif

Dalam mengevaluasi sebaiknya guru menjalin komunikasi dengan wali murid, guru guru dan kepala sekolah sehingga dapat ikut serta dalam proses evaluasi.

5.    Praktis

Praktis berarti mudah dalam pengaplikasian, baik guru yang menggunakan maupun pihak pihak yang akan menggunakan.

Baca Juga :  Cara meningkatkan Kecerdasan pada anak

 

Dari beberapa paparan prinsip-prinsip evaluasi yang telah disebutkan diatas, prinsip tersebut digunakan agar evaluasi pembelajaran yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Maka sebagai pihak yang melakukan evaluasi pembelajaran, perlu memperhatikan beberapa prinsip evaluasi secara keseluruhan berikut, yaitu:

1.    Prinsip Valid

Prinsip valid adalah yang sesuai, berdasarkan cara yang semestinya, berlaku, serta benar atau sahih. Evaluasi berdasarkan prinsip valid adalah evaluasi yang dilakukan harus konsisten, sesuai, benar, dan semestinya dalam mengukur maupun menilai suatu objek sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Dalam evaluasi pembelajaran, harus memiliki berbagai kompetensi tertentu agar tercapai tujuan yang ingin dicapai serta agar dalam evaluasi tersebut memiliki standar yang jelas. Sehingga, memerlukan alat ukur agar dapat mencapai hasil sebuah pengukuran yang valid.

 

2.    Prinsip Mendidik

Prinsip mendidik berarti bahwa evaluasi harus memberikan sesuatu yang baik dan berpengaruh pada pengembangan diri serta pencapaian hasil kegiatan belajar mengajar. Mendidik berarti mengembangkan, memberikan motivasi, serta membina peserta didik dan pendidik. Kegiatan evaluasi pembelajaran diharapkan dapat bertujuan memberi motivasi kepada peserta didik agar dapat meningkatkan prestasi belajar. Sehingga penilaian hasil pembelajaran mampu memberikan dorongan serta membina peserta didik dan pendidik agar menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Maka mereka dapat memotivasi dan termotivasi untuk memperbaiki kualitas belajar dan mengajar dalam kegiatan pembelajaran.

Hasil dari evaluasi pembelajaran siswa diharapkan dapat mereka rasakan sebagai sebuah reward atau penghargaan bagi siswa yang berhasil, sedangkan untuk siswa yang kurang berhasil maka hasil evaluasinya dapat memicu belajarnya agar lebih semangat serta gigih agar hasil belajarnya meningkat. Oleh karena itu, pendidik diharapkan selalu memberikan apresiasi kepada siswa terhadap apa yang telah mereka capai.

3.    Prinsip yang Berorientasi pada Kompetensi

Penilaian yang akan dilaksanakan untuk peserta didik harus bertujuan untuk mengukur seberapa tercapainya siswa dalam pencapaian kompetensi dalam kurikulum.

4.    Prinsip yang Adil dan Objektif

Penilaian yang dilakukan harus adil, adil yang dimaksud adalah semua siswa memperoleh perlakuan dan kesempatan yang sama baik dalam perbedaan agama, suku, budaya, sosial, maupun ekonomi sehingga tidak ada kecemburuan sosial antarsiswa.

Penilaian yang dilakukan juga harus objektif dengan memandang hasil kompetensi peserta didik  bukan dengan subjektif dengan melihat latar belakang peserta didik seperti tetangganya, anaknya, anak dari temannya. Penilaian harus objektif tidak boleh terpengaruhi oleh subjektivitas penilai. Contohnya dalam penilaian ujian tulis matematika Deni yang merupakan tetangga guru dan masih anak dari sepupu guru diberi nilai lebih tinggi daripada peserta didik yang lain, hal itu merupakan contoh penilaian secara subjektif yang sebaiknya tidak diterapkan dalam penilaian, penilaiannya seharusnya terletak pada kompetensi peserta didik dalam pelajaran matematika tersebut.

 

5.    Prinsip Kontinuitas (Kesinambungan/Terus Menerus)

Prinsip kontinuitas dikenal juga dengan konsep kesinambungan.  Artinya evaluasi dilakukan secara terus menerus dan tidak boleh dilakukan hanya pada waktu atau kesempatan tertentu saja karena pembelajaran itu bersifat terus menerus dan saling terkait satu sama lain.  Evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dan hasilnya dihubungkan dengan hasil evaluasi selanjutnya sehingga hasil evaluasi lebih valid. Pengajar juga dapat memperoleh gambaran perkembangan peserta didik dengan jelas dan terperinci. Prinsip ini penting karena perkembangan peserta didik tidak hanya dilihat dari sisi produk saja tapi juga dilihat dari prosesnya dan serta inputnya. Prinsip ini mendorong siswa supaya terus belajar untuk mempersiapkan diri pada kegiatan pendidikan selanjutnya.

 

6.    Prinsip Terbuka

Prinsip terbuka disebut juga dengan prinsip transparan. Prinsip terbuka dalam evaluasi pembelajaran bermaksud agar evaluasi itu diketahui oleh pihak-pihak lain yang bersangkutan. Guru atau pendidik juga menyampaikan secara terbuka mengenai kriteria-kriteria penilaian sehingga tidak ada yang perlu ditutupi. Terbuka disini mencakup hal-hal seperti prosedur penilaian, kriteria penilaian, serta dasar pengambilan keputusan.

 

7.    Prinsip Keseluruhan

Prinsip keseluruhan atau menyeluruh juga dapat disebut sebagai prinsip komprehensif. Untuk melakukan evaluasi hasil belajar tidak boleh dilakukan dengan cara terpisah pisah atau terpenggal penggal harus dilakukan utuh atau menyeluruh. Dengan kata lain evaluasi akan terlaksana dengan baik atau sukses apabila dilaksanakan secara bulat, menyeluruh, dan utuh. Maksudnya, dalam mengevaluasi bisa dikatakan utuh atau menyeluruh, apabila cara penilaiannya mampu mengungkap keseluruhan aspek-aspek yang seharusnya dinilai seperti aspek kognitif, efektif, dan psikomotor.

Baca Juga :  Perencanaan Sarana Dan Prasarana Pada Anak Usia Dini

 

8.    Prinsip Bermakna

Hasil evaluasi hendaknya memiliki makna bagi siswa dan juga pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil evaluasi diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap pencapaian hasil belajar siswa, sehingga siswa mampu mengetahui kemampuannya dan bisa berkompetisi dengan teman-temannya untuk mendapatkan nilai yang terbaik juga semangat belajar yang membara. Siswa juga bisa mengetahui keunggulan dan kelemahannya sendiri dan siswa lain dan mengetahui minat bakat, serta potensi dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

b.      Ruang lingkup Evaluasi Pembelajaran [10]

Ruang lingkup evaluasi pembelajaran mencakup semua aspek pembelajaran, baik dalam domain kognitif, afektif maupun psikomotor. Peserta didik yang memiliki kemampuan kognitif yang baik belum tentu dapat menerapkannya dengan baik dalam memecahkan permasalahan kehidupan. Untuk memahami lebih jauh tentang klasifikasi domain hasil belajar, Anda dapat mengikuti pendapat yang dikemukakan Benyamin S.Bloom, dkk., yang mengelompokkan hasil belajar menjadi tiga bagian, yaitu domain kognitif, doman afektif, dan domain psikomotor. Domain kognitif merupakan domain yang menekankan pada pengembangan kemampuan dan keterampilan intelektual. Domain afektif adalah domain yang berkaitan dengan pengembangan perasaan, sikap, nilai dan emosi, sedangkan domain psikomotor berkaitan dengan kegiatan keterampilan motorik.

 

Menurut Benyamin S.Bloom, dkk (1956) hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam tiga domain, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Setiap domain disusun menjadi beberapa jenjang kemampuan, mulai dari hal yang sederhana sampai dengan hal yang kompleks, mulai dari hal yang mudah sampai dengan hal yang sukar, dan mulai dari hal yang konkrit sampai dengan hal yang abstrak. Adapun rincian domain tersebut adalah sebagai berikut :

 

-            Domain kognitif (cognitive domain). Domain ini memiliki enam jenjang kemampuan, yaitu:

 

1.       Pengetahuan (knowledge), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, prinsip, fakta atau istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : mendefinisikan, memberikan, mengidentifikasi, memberi nama, menyusun daftar, mencocokkan, menyebutkan, membuat garis besar, menyatakan, dan memilih.

2.        Pemahaman (comprehension), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk memahami atau mengerti tentang materi pelajaran yang disampaikan guru dan dapat memanfaatkannya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-hal lain. Kemampuan ini dijabarkan lagi menjadi tiga, yakni menterjemahkan, menafsirkan, dan mengekstrapolasi. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : mengubah, mempertahankan, membedakan, memprakirakan, menjelaskan, menyimpulkan, memberi contoh, meramalkan, dan meningkatkan.

3.      Penerapan (application), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode, prinsip dan teori-teori dalam situasi baru dan konkrit. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : mengubah, menghitung, mendemonstrasikan, mengungkapkan, mengerjakan dengan teliti, menjalankan, memanipulasikan, menghubungkan, menunjukkan, memecahkan, menggunakan.

4.        Analisis (analysis), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen pembentuknya. Kemampuan analisis dikelompokkan menjadi tiga, yaitu analisis unsur, analisis hubungan, dan analisis prinsip-prinsip yang terorganisasi. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : mengurai, membuat diagram, memisah-misahkan, menggambarkan kesimpulan, membuat garis besar, menghubungkan, merinci.

5.         Sintesis (synthesis), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menghasilkan sesuatu yang baru dengan cara menggabungkan berbagai faktor. Hasil yang diperoleh dapat berupa tulisan, rencana atau mekanisme. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : menggolongkan, menggabungkan, memodifikasi, menghimpun, menciptakan, merencanakan, merekonstruksikan, menyusun, membangkitkan, mengorganisir, merevisi, menyimpulkan, menceritakan.

6.         Evaluasi (evaluation), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengevaluasi suatu situasi, keadaan, pernyataan atau konsep berdasarkan kriteria tertentu. Hal penting dalam evaluasi ini adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga peserta didik mampu mengembangkan kriteria atau patokan untuk mengevaluasi sesuatu. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : menilai, membandingkan, mempertentangkan, mengeritik, membeda-bedakan, mempertimbangkan kebenaran, menyokong, menafsirkan, menduga.

 Domain afektif (affective domain), yaitu internalisasi sikap yang menunjuk ke arah pertumbuhan batiniah dan terjadi bila peserta didik menjadi sadar tentang nilai yang diterima, kemudian mengambil sikap sehingga menjadi bagian dari dirinya dalam membentuk nilai dan menentukan tingkah laku. Domain afektif terdiri atas beberapa jenjang kemampuan, yaitu:

7.         Kemauan menerima (receiving), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk peka terhadap eksistensi fenomena atau rangsangan tertentu. Kepekaan ini diawali dengan penyadaran kemampuan untuk menerima dan memperhatikan. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : menanyakan, memilih, menggambarkan, mengikuti, memberikan, berpegang teguh, menjawab, menggunakan.

8.        Kemauan menanggapi/menjawab (responding), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk tidak hanya peka pada suatu fenomena tetapi juga bereaksi terhadap salah satu cara. Penekanannya pada kemauan peserta didik untuk menjawab secara sukarela, membaca tanpa ditugaskan. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : menjawab, membantu, memperbincangkan, memberi nama, menunjukkan, mempraktikkan, mengemukakan, membaca, melaporkan, menuliskan, memberitahu, mendiskusikan.

9.       Menilai (valuing), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menilai suatu objek, fenomena atau tingkah laku tertentu secara konsisten. Kata kerja operasional yang digunakan diantaranya : melengkapi, menerangkan, membentuk, mengusulkan, mengambil bagian, dan memilih.

10.    Organisasi (organization), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menyatukan nilai-nilai yang berbeda, memecahkan masalah, membentuk suatu sistem nilai. Kata kerja operasional yang dapat digunakan diantaranya : mengubah, mengatur, menggabungkan, membandingkan, mempertahankan, menggeneralisasikan, memodifikasi.

Domain psikomotor (psychomotor domain), yaitu kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan gerakan tubuh atau bagian-bagiannya, mulai dari gerakan yang sederhana sampai dengan gerakan yang kompleks. Perubahan pola gerakan memakan waktu sekurang-kurangnya 30 menit. Kata kerja operasional yang digunakan harus sesuai dengan kelompok keterampilan masing-masing, yaitu :

11.   Muscular or motor skill, yang meliputi: mempertontonkan gerak, menunjukkan hasil, melompat, menggerakkan, menampilkan.

12.   Manipulations of materials or objects, yang meliputi: mereparasi, menyusun, membersihkan, menggeser, memindahkan, membentuk.

13.    Neuromuscular coordination, yang meliputi : mengamati, menerapkan, menghubungkan, menggandeng, memadukan, memasang, memotong, menarik dan menggunakan.

D.    Jenis –jenis Evaluasi Pembelajaran

A. Jenis evaluasi berdasarkan tujuan[11]

dibedakan atas lima jenis evaluasi :

 

1.      Evaluasi diagnostik

Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang di tujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.

2.      Evaluasi selektif

Evaluasi selektif adalah evaluasi yang di gunakan untuk memilih siwa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.

3.      Evaluasi penempatan

Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa.

4.      Evaluasi formatif

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.

5.      Evaluasi sumatif

Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan

kemajuan bekajra siswa.

 

B. Jenis evaluasi berdasarkan sasaran :

1. Evaluasi konteks

Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul

dalam perencanaan

2. Evaluasi input

Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupun strategi

yang digunakan untuk mencapai tujuan.

3.Evaluasi proses

Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenai

kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukung dan

faktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan sejenisnya.

4. Evaluasi hasil atau produk

Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagai dasar

untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi, ditingkatkan

atau dihentikan.

5. Evaluasi outcom atau lulusan

Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yankni

evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.

 

C. Jenis evalusi berdasarkan lingkup

kegiatan pembelajaran :

 

1.      Evaluasi program pembelajaran

Evaluais yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran,

strategi belajar mengajar, aspe-aspek program pembelajaran yang lain.

2.       Evaluasi proses pembelajaran

Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

3.      Evaluasi hasil pembelajaran

Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik

.

E.     Jenis evaluasi berdasarkan objek dan subjek evaluasi

 

Berdasarkan objek :

1.      Evaluasi input

Evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.

2. Evaluasi tnsformasi

Evaluasi terhadao unsur-unsur transformasi proses pembelajaran anatara lain

materi, media, metode dan lain-lain.

3. Evaluasi output

Evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.

Berdasarkan subjek :

1. Evaluasi internal

Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.

2.      Evaluasi eksternal

Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator, misalnya orangtua, masyarakat.

F.      Jenis Evaluasi Non Tes Dalam Penilaian Pendidikan

a.       Pengertian evaluasi Non Tes

Evaluasi non tes adalah melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Teknik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian peserta didik serta menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap, sosial , ucapan, riwayat hidup, dan lainnya. Yang berhubungan dengak kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara indidu maupun kelompok.

b.      Jenis evaluasi non tes

-          Wawancara adalah suatu carayang digunkan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak.

-          Kuisioner juga sering dikenal dengan angket yaitu wawancara tertulis baik pertanyaan maupun jawaban.

-          Skala adalah alat untuk menguur nilai, minat dan perhatian yang disusun dalam bentuk pertanyaan untuk di nilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan  kriteria yang di tentukan.

-          Observasi adalah pengamatan kegiatan seperti dalam diskusi, kerja kelompok,eksperimen dan sebaginya.

-          Studi kasus pada dasarnya memperlajari secara intensif seseorang indidvidu yang di pandang mengalami suatu kasus tertentu.

-          Sosiometri adalah suatu prosedur, untuk merangkum, menyusun dan sampai batas tertentu dapat mengkuantifikasi pendaat-pendapat peserta didik tentang penerimaan teman sebayanya serta hubungan di antara mereka.

 

[1] Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan islam Departemen Agama RI, 2009)

[2] Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) hal, 11

[3]Anas Sudijono, Pengantar evaluasi pendidikan, (Jakarta: PT Rajawali Grafindo Persada, 2003) hal 8

[4] Anas Sudijono, Ibid, hal 14

[5] Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) hal, 16

[6] Dr. suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995) hal 11.

[7] Daryanto, Op, Cit. hal 17

[8] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Radar Jaya Offset, 2008) hal 224

[9] https://www.lamaccaweb.com/2020/03/10/prinsip-prinsip-evaluasi-pembelajaran/

[10] https://syair79.wordpress.com/2018/12/03/ruang-lingkup-evaluasi-pembelajaran/

[11] https://auliamakro.wordpress.com/evaluasi-pembelajaran/jenis-jenis-evaluasi pembelajaran/

 

 

 

                   


Komentar

Postingan populer dari blog ini